Anak Berkolaborasi Secara Alami Saat Belajar Coding

Anak Berkolaborasi Secara Alami Saat Belajar Coding


Ada hal yang menarik terjadi di kelas Coding Kids. Beberapa anak tanpa diminta, saling membantu proses membuat game di kelas. Seperti yang tampak pada gambar, si kecil berkaos merah dengan semangat menunjukkan cara untuk menambahkan beberapa blok code pada game yang dibuat oleh temannya.

Hal ini terjadi berulang-ulang, selama beberapa menit.

Mengapa kejadian ini menarik? Karena sering kita mendengar hal negatif terhadap anak jaman sekarang yang suka menggunakan gadget. Mereka sering dituduh sebagai generasi yang cuek, antipati juga tidak peduli lingkungan sekitar.

Ternyata, anak masih punya sifat alaminya untuk saling menolong dalam menyelesaikan sesuatu. Nah, karakter inilah yang bisa terus menerus dipupuk sambil anak dibiarkan mempelajari teknologi apapun, baik itu coding ataupun hal lain.

Laptop, tablet, ipad, smartphone, ini semua hanyalah alat. Alat yang bisa digunakan dengan baik, jika kita tahu caranya. Sebaliknya, alat-alat tersebut bisa saja menjerumuskan anak-anak menjadi tidak baik, karena kita tidak tahu caranya.

Perkembangan teknologi sudah tidak terbendung lagi. Bahkan dengan adanya teknologi pula, saat ini semua pekerjaan bisa dilakukan dengan mudah. Kita bisa meeting tanpa harus keluar rumah, yaitu menggunakan Skype, Zoom ataupun Google Hangout.

Pekerjaan programmer juga biasanya dilakukan secara berkolaborasi dengan beberapa orang. Misalnya projek membuat satu website, akan memerlukan beberapa tenaga terampil, misalnya:
1. programmer yang tugasnya untuk meng-coding,
2. designer yang tugasnya untuk merancang tampilan UI/UX website yang akan dibuat,
3. content writer yang tugasnya menulis isi dari website.
4. content creator yang tugasnya membuat konten dalam bentuk video atau gambar
5. web optimation yang tugasnya mengoptimasikan penyebaran website dengan baik sehingga website kita terlacak nomer satu di mesin pencarian.

Dan lain sebagainya.

Kelima tenaga terampil ini, saat ini tak perlu lagi harus bekerja dan bertemu dalam satu kantor setiap hari. Sudah mulai banyak dilakukan pekerjaan freelance, yaitu masing-masing orang bekerja di tempatnya sendiri-sendiri dan berkomunikasi melalui internet. Baik itu chat messenger seperti whatsapp, telegram, ryver ataupun stack. Dan juga membagikan tugasnya untuk bisa dilihat bersama menggunakan platform bernama Git Hub.

Dari penjelasan singkat ini, sudah paham kan kalau teknologi tidak melulu akan memberikan dampak negatif pada anak-anak kita. Asalkan caranya tepat, dengan penguasaan teknologi, potensi anak-anak akan semakin melesat.